Hazard diciptakan sebagai tanda ketika berhenti karena keadaan darurat. Namun masih banyak yang menggukana ketika kendaraan berjalan saat hujan, bahkan ketika lurus di perempatan. Apa bahayanya?

Inilah Beberapa Alasan Lebih Baik Gunakan Lampu Utama Daripada Hazard

 
Inilah Beberapa Alasan Lebih Baik Gunakan Lampu Utama Daripada Hazard

Hazard diciptakan sebagai tanda ketika berhenti karena keadaan darurat. Namun masih banyak yang menggukana ketika kendaraan berjalan saat hujan, bahkan ketika lurus di perempatan. Apa bahayanya?

Saat hujan datang, tak jarang kita menemukan pengendara mobil tiba-tiba menyalakan lampu hazard dan tetap berjalan tanpa rasa bersalah.

Sejatinya lampu ini  hanya boleh dinyalakan saat terpaksa atau darurat saja. Seperti pada saat kendaraan berhenti di bahu jalan karena mogok atau mengalami kerusakan, adanya lampu hazard, akan memberitahukan keadaan mobil kita kepada pengguna jalan lainnya.

Karena memang spesifik untuk keadaan darurat, ketika pengendara menyalakan lampu hazard tanpa alasan jelas dan melaju dengan kencang,  di beberapa negara Eropa hal ini dianggap pelanggaran berat.

“Hazard jelas bukan dipergunakan untuk keperluan berkendara saat kendaraan melaju. Sebuah kesalahan besar jika kita mengganggap melaju dengan menyalakan hazard akan membuat kondisi kita jadi lebih aman,” jelas Leo Firmanto salah satu traineer safety driving di Indonesia. “Justru sebaliknya, kita bisa celaka atau mencelakai orang lain,” imbuh pria yang dikenal juga dibagai modifikator kendaraan 4x4 ini.

Beberapa hal yang menjadikan lampu ini muncul sebagai ancaman keselamatan diantaranya,

  1. Karena semua lampu sein menyala dalam waktu bersamaan, maka fungsi lampu sein menjadi lumpuh. Dengan demikian maka akan sulit bagi pengemudi lain yang berada di belakang menentukan arah berbelok kendaraan di depannya apakah ke kiri atau kanan.
  2. Dalam kondisi hujan, kabut atau malam, pedar cahaya lampu taillight (lampu belakang berwarna merah) akan 'kalah kuat' sinarnya, tertimpa oleh nyala lampu hazard/sein yang berwarna oranye. Selain itu nyala hazard yang berkedip-kedip dalam waktu tertentu berpotensi mengacaukan informasi dari mata ke otak sehingga terjadi dapat terjadi salah kalkulasi jarak.
  3. Nyala lampu berkedip akan membuat pupil mata kita membesar dan mengecil. Kondisi ini akan membuat pengemudi di belakangnya menjadi lebih cepat lelah.

Lalu apakah yang harus kita lakukan saat menerjang hujan atau kabut? Leo menyebutkan bahwa hal yang logis dilakukan adalah menyalakan lampu besar.

Di beberapa mobil terutama merek asal Eropa tersedia rear fog lamp alias lampu kabut untuk areal belakang. Rear fog lamp ini berwarna merah dan memiliki pendar cahaya sama dengan yang dipergunakan pada lampu rem, sehingga dapat dipantau dari jarak yang jauh.

Rear foglamp aman digunakan pada kondisi hujan deras sekalipun

 

 
Related
Updates

otodriver.com