Beberapa bulan sebelum peluncurannya hari ini, carreview.id sudah mencoba Suzuki Jimny ini. Sungguh kendaraan yang menyenangkan!

First Drive : Impresi Berkendara Suzuki Jimny yang Diluncurkan di GIIAS 2017

 
First Drive : Impresi Berkendara Suzuki Jimny yang Diluncurkan di GIIAS 2017

Beberapa bulan sebelum peluncurannya hari ini, carreview.id sudah mencoba Suzuki Jimny ini. Sungguh kendaraan yang menyenangkan!

Tak bisa dipungkiri, sejak generasi awal hingga yang akan diluncurkan Sabtu (12/8) di GIIAS 2017 ini, Suzuki Jimny merupakan kendaraan yang menyenangkan.

Bagaimana tidak, siapapun yang berada di dalam kabinnya akan selalu berjingkrak-jingkrak, seperti orang sedang riang gembira. Tentu, seisi kabin ‘jingkrak’ karena bantingan suspensi yang tergolong keras, bahkan di atas aspal sekalipun.

Hal itu masih menjadi ‘warisan’ pada Jimny generasi anyar ini, walaupun bantingan suspensinya sekarang sudah lebih jinak, berkat penggunaan per keong, ketimbang Jimny sebelumnya yang dipasarkan di sini, sejak generasi awal hingga Suzuki Caribian yang menggunakan per daun.

Memang, jangan memimpikan peredaman halus seperti sedan atau MPV yang sama-sama menggunakan per keong, tubuh mungil Jimny dengan tinggi 1.705 mm ini, perlu suspensi yang agak kaku agar menjaga mobil agar tidak limbung saat bermanuver cepat.

Jangan salah, meski ‘kaku’, suspensi Jimny tergolong lentur untuk berartikulasi. Seperti ketika digunakan menaiki ramp, artikulasi suspensi yang masih standar itu, termasuk sangat baik.

Hal ini sangat berguna jika digunakan di lintasan off-road dengan permukaan jalan sangat tidak rata. Dengan artikulasi suspensi yang ditunjang oleh travel suspensi yang cukup, traksi roda ke permukaan jalan akan selalu terjaga.

Tetapi, apa gunanya travel suspensi yang mampu menciptakan artikulasi baik, jika tidak ditunjang kemampuan melibas lintasan off-road?

Dimulai dengan menekan tombol gigi transfer, dari 2H (penggerak dua roda belakang untuk kecepatan tinggi) ke 4L (penggerak empat roda dengan kecepatan rendah) cukup terasa mobil ini memiliki crawl ratio yang cukup untuk mendaki.

Rasio perbandingan gigi transfer low, 2,643:1, mampu menyalurkan torsi mesin 110 Nm/4.100 rpm dengan cukup ke tiap rodanya. Saat berjalan di permukaan datar, dengan putaran mesin idle (tanpa digas), Jimny akan merayap dengan kecepatan seperti orang berjalan agak cepat.

Tentu, kondisi ini didukung oleh beberapa hal, seperti final gear dengan rasio 4.090:1 serta posisi gigi 1 (rasio 2,875:1) pada transmisi otomatik 4 percepatannya, serta menggunakan roda dengan ban berukuran 205/70R15.

Saat berjalan dengan penggerak empat roda, kemudi akan terasa sedikit lebih berat, terutama ketika membelok patah, dibandingkan menggunakan 2H (penggerak roda belakang). Tetapi memang seperti itulah karakter yang umum terjadi pada mobil berpenggerak empat roda dengan gardan rigid di depan maupun belakang.

Sementara di dalam kabin, kelengkapannya tergolong sangat sederhana dan simpel. Dasbor hanya mengedepankan fungsi vital saja, tak ada unsur lain yang memberikan kesan mewah. Dasbor dengan warna abu-abu itu, cukup memiliki fitur standar. Ada instrument cluster, kisi-kisi AC di tiap sisi dan bagian tengah, lantas center cluster yang merupakan tempat untuk head unit dan pengontrol AC serta tombol pengatur transfer gear.

Kemudian di sisi penumpang depan, terdapat glove box (laci tertutup) serta laci terbuka, serta dua buah SRS Airbag yang tertanam pada dasbor kiri dan di balik bantalan klakson pada lingkar setir.

Sementara di belakang, terdapat jok yang hanya cukup dimuati dua orang. Seperti pendahulunya di tanah air, ruang ini memang tak terlalu nyaman ketika diisi oleh penumpang dewasa, ruang kakinya tak leluasa.

Tetapi jok belakang yang dilengkapi ISOFIX untuk mengaitkan baby car seat ini, bisa dilipat dengan rasio 50:50, sehingga masih memberikan ruang barang, ketika kabin diisi penumpang sebanyak tiga orang.

Jika ruang belakang digunakan untuk barang, maka cukup luas ‘bagasi’ dalam kabin Jimny.

Ketika mencoba menjalankan jip imut ini, suara mesin M13A, berkapasitas 1.328 cc itu terdengar sangat halus, sehingga kabin pun cukup senyap. Tarikannya sih tergolong sedang, tak terlalu kuat dorongannya, juga tak terlalu lemah.

Sempat mencoba di permukaan rata maupun di jalan tanah, suspensi Jimny ini memang jauh lebih nyaman dibandingkan generasi sebelumnya yang dipasarkan di tanah air, tetapi tentunya tak seempuk SUV ladder frame ataupun yang bersasis body on frame lain macam Grand Vitara apalagi kelas di atasnya, seperti Fortuner atau Pajero Sport.

Oya, untuk mengoperasikan transfer gear, dilakukan seperti mobil lain yang menggunakan part time 4WD, jika hanya memindahkan dari 2H ke 4H, masih bisa dilakukan sambil melaju di bawah 100 km/jam.

Pada Jimny, perpindahan ini cukup dengan memencet tombol pada center cluster di dasbor.

Tetapi, untuk 4L, harus berhenti dulu dan posisikan tuas persneling pada N dan pencet tombol 4L, lampu pada dasbor akan berkedip, tunggu hingga lampu menyala tanpa berkedip, maka artinya free wheel hub di roda depan sudah terkunci dan Jimny sudah bisa melakukan perjalanan di rute off-road sedang hingga menengah.

Jika ingin menggasak rute off-road ekstrem, minimal harus dilakukan modifikasi pada suspensi dan mengganti ban pacul, setidaknya ban M/T.

Tidak banyak manuver yang bisa dilakukan pada tempat terbatas ini, namun impresi berkendara sudah bisa didapat pada Jimny ini.

Cup holder untuk penumpang belakang
Door trim sangat simpel

Kesimpulan

Mengendarai Jimny ini, cukup menyenangkan, posisi duduk cukup ergonomis, meski kondisi ini tidak menular pada penumpang belakang, dengan ruang tidak terlalu lega untuk orang dewasa.

Pengendaliannya mudah, pandangan pengemudi ke luar cukup luas serta mudah melakukan manuver maupun parkir, dengan dimensinya yang kompak.

Namun, ambience di dalam kabin, seolah berada mundur beberapa tahun ke belakang, karena memang tak banyak ubahan dilakukan sejak Jimny ‘Wide’ (JB33) dengan sepatbor lebar ini, hingga versi JB43 (facelift tahun 2012) yang kami coba.

 
Related
Updates

otodriver.com