Bagaimana rasanya mengemudikan mobil dengan DNA Lancer Evolution dan Pajero? Kami mencobanya langsung di pegunungan, 1,5 jam dari kota Marseille, Prancis.

First Drive : Kesan Manis Mengendarai Outlander PHEV di Provence-Alpes Cote d’Azur Prancis

 
First Drive : Kesan Manis Mengendarai Outlander PHEV di Provence-Alpes Cote d’Azur Prancis

Bagaimana rasanya mengemudikan mobil dengan DNA Lancer Evolution dan Pajero? Kami mencobanya langsung di pegunungan, 1,5 jam dari kota Marseille, Prancis.

Secarik surat elektronik masuk ke redaksi Carreview.id, setelah kami telaah, ternyata isinya sebuah ajakan dari PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) untuk menjajal langsung Outlander PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle). Tanpa perlu berpikir panjang, undangan tersebut langsung kami iya kan.

Sejauh ini, Mitsubishi Outlander PHEV merupakan SUV listrik yang memiliki catatan penjualan bagus di benua Eropa, hal tersebut membuat kami semakin penasaran dan tertarik mencobanya langsung di pegunungan Provence-Alpes Cote d’Azur, Prancis atau sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari kota Marseille.

Mitsubishi Outlander PHEV merupakan mobil pertama di dunia yang menggendong sistem kerja PHEV.  Teknologi ini merupakan pengembangan dari skema mobil listrik yang sudah ada, dalam kaitannya untuk menempuh jarak yang lebih jauh.  Teknologi diciptakan untuk mengatasi isu mengenai lingkungan dan ketersediaan bahan bakar fosil di dunia yang makin menipis.

SUV berpenggerak All Wheel Drive ini dibuat dari tiga DNA Mitsubishi yang berbeda. Untuk teknologi motor listrik, diambil dari pengalaman mereka membuat BEV (Battery Electric Vehicle) Mitsubishi i-MiEV.  Artinya, kelemahan dan kelebihan i-MiEV dipelajari untuk disempurnakan dan disematkan ke Outlander PHEV.

Sedangkan sistem penggerak SUV yang sudah dites daya tahannya sejauh 300.000 km di Spanyol ini, dicomot dari ke sepuluh tipe Mitsubishi Lancer Evolution. Riset di Lancer ini pun tidak tanggung-tanggung. Beberapa kali tipe Lancer Evolution mendominasi dan menjuarai World Rally Championship (WRC) yang salah satunya disupiri Tommi Makinen, pemegang gelar  juara dunia WRC 4 kali berturut-turut (1996, 1997, 1998 dan 1999).  Bentuk SUV sendiri merupakan hasil riset dari Mitsubishi Pajero, yang juga sering memenangi Rally Raid semisal Dakkar Rally. Dengan tiga DNA tersebut, Outlander PHEV seharusnya memang menjadi mobil tangguh.

Lalu mengenai PHEV. Teknologi ini bukan mobil hybrid yang sering kita dengar.  Sistem PHEV sebenarnya mobil listrik yang dibekali mesin sebagai generator. Artinya, kalau biasanya mesin mendominasi untuk pergerakan, kali ini mesin nyaris 100% hanya untuk mengisi ulang baterai agar bisa menggerakan motor listrik sebagai penggerak di kedua sumbu roda.

Kenapa kami bilang nyaris 100%? “Karena ketika membutuhkan akselerasi cepat, semisal di tanjakan, tenaga mesin masih dibutuhkan dan dialirkan langsung ke sumbu roda depan melalu sebuah gigi tunggal namun hanya mampu menjerit hingga 4.000-5.000 rpm saja,” bisik salah satu punggawa Mitsubishi Motors. Memang sifatnya membantu. Ketika jalanan balik normal, kerjanya kembali ke asal yakni sebagai pembangkit listrik.

Mesin terbaru yang bekerja sebagai generator berkapasitas 2.400 cc (4B12), DOHC MIVEC  dan saat baru menyala akan berputar hingga 2.500 rpm untuk mengisi baterainya, dan putaran mesin ini akan menurun seiring banyaknya kapasitas baterai yang terisi. 

Baterainya sendiri memiliki daya simpan 12 kWh, yang jika dipakai hingga habis tanpa charging mampu menempuh jarak hingga 54 km.  Namun jika dibantu pengisian daya dari mesin generator, jika dari tangki bahan bakar penuh mampu menempuh 830 km.

Baterai ini menggerakan dua motor penggerak di sumbu depan dan belakang sehingga mobil ini menjadi berpenggerak 4 roda (AWD). Untuk bagian depan terletak di samping kiri mesin dan memiliki tenaga 60 kW. Sedangkan motor belakang menghasilkan tenaga listrik 70 kW. Kedua motor ini dipantau ECU yang bisa mengurangi persentase kerjanya jika terjadi kondisi emergensi.

Outlander PHEV memiliki 3 mode mengemudi. Pertama EV Drive. Di mana posisi motor bekerja hanya ditenagai baterai lithium-ion. Berikutnya hybrid mode, di mana mesin akan bekerja menghasilkan listrik untuk dikirim ke baterai jika sudah dibawah 65%. Berikutnya adalah parallel hybrid. Sistem akan memilih mode ini jika kita membutuhkan akselerasi dengan bantuan mesin. Ketiga mode ini bisa bekerja otomatis menyesuaikan dengan kondisi.

Salah satu cara pengisian baterai juga menggunakan sistem regenerative braking.  Ketika melakukan pengereman, energi yang keluar diubah menjadi listrik yang disimpan ke baterai. Selain itu, jika tuas di kabin diposisikan ke B,  engine braking bisa dilakukan manual dan ini pun merupakan salah satu cara regenerative  untuk penambahan listrik ke baterai.

Untuk sistem charging, beberapa negara memang berbeda. Sebagai contoh, di Jepang bernama CHAdeMO. Cara kerjanya selain mengisi baterai juga mengambil listrik dari baterai (discharging). Pengisian baterai  dari kosong sampai 80% hanya membutuhkan 25 menit dengan opsi fast charger.  Sedangkan dengan listrik rumah, dengan keluaran 3,5 kwh membutuhkan 4 jam untuk mengisi baterai penuh.

Uniknya, baterai PHEV juga bisa menyuplai balik listrik ke rumah sebesar 1.500 watt untuk keperluan rumah tangga. Mereka menamakannya  V2H (Vehicle to Home). Jika baterai penuh dan dipakai untuk keperluan reguler, baterai mampu menghidupkan kebutuhan rumah tangga hingga 5 hari ke depan.

 
Related
Updates

otodriver.com