PHEV dianggap paling ideal walau masih ada yang harus disesuaikan. Apa saja pekerjaan rumah yang harus disiapkan untuk menyambut era mobil listrik?

Kenapa Mobil Full Electric Dikatakan Belum Cocok di Indonesia?

 
Kenapa Mobil Full Electric Dikatakan Belum Cocok di Indonesia?

PHEV dianggap paling ideal walau masih ada yang harus disesuaikan. Apa saja pekerjaan rumah yang harus disiapkan untuk menyambut era mobil listrik?

Tiga perguruan tinggi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) telah melakukan riset dan studi mengenai mobil listrik.

Dalam hal ini, Toyota memberikan pinjaman Toyota Prius Prime (PHEV), Toyota Prius (HEV) dan Toyota Altis (Internal Combution Engine/ICE) pada masing-masing dua unit tiap tipe untuk perguruan tinggi tersebut. Hal ini sejalan dengan roadmap yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang menargetkan 20% dari mobil yang ada di Indonesia pada 2025 adalah mobil low emission carbon.

“Selain mendapatkan perbandingan kebersihan emisinya, kita coba rumuskan kira-kira mobil apakah yang paling pas untuk kondisi di tanah air,” terang Dr. Ir. Agus Purwadi MT, perwakilan dari Lembaga Afiliasi Peneliti dan Industri (LIPI) ITB, Selasa, (06/11)

Sejauh ini, PHEV keluar sebagai mobil paling optimal dibandingkan tipe HEV dan ICE. Namun demikian, sederet masalah harus diupayakan terutama untuk mendukung pengisian (charging). Fasilitas charging menjadi salah satu kendala, yakni harus menyesuaikan dengan standar dan kapasitas listrik yang dibutuhkan terutama di rumah ataupun di area kantor maupun fasilitas publik dan umum. Hal ini tentunya menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan, penambahan fasilitas ini pun menyebabkan penambahan beban listrik yang semakin besar.

Dalam riset ini Kementerian Perindustrian dan Toyota melakukan riset dan studi secara komprehensif tentang teknologi electrified vehicle di dalam negeri. Diharapkan langkah ini akan menjadi masukkan bagi pemerintah dalam menerapkan kebijakan berkenaan dengan mobil ramah lingkungan ke depannya.

“Sebenarnya paling ramah lingkungan adalah mobil full listrik hanya saja tidak ada unit yang diuji. Tingkat polusinya sepenuhnya terkontrol hanya pada pembangkit tenaga listrik saja," lanjut Agus.  "Namun sepertinya belum akan bisa diterima secara luas di Indonesia. Selain harus mempersiapkan infrastruktur sarana charging dan pengisian dayanya sangat terpola (hanya di tempat tertentu yang menyediakan charging station). Nampaknya habit pengguna mobil di Indonesia belum bisa menerima tentang hal itu," kekehnya sembari menutup obrolan.

 
Related
Updates

otodriver.com