Dua jalur ini memberi pilihan perjalanan yang lebih hemat waktu dan biaya dari Jakarta menuju Yogyakarta.

Perbandingan Rute Tol Trans Jawa Vs Jalur Selatan, Mana Lebih Efisien?

 
Perbandingan Rute Tol Trans Jawa Vs Jalur Selatan, Mana Lebih Efisien?

Dua jalur ini memberi pilihan perjalanan yang lebih hemat waktu dan biaya dari Jakarta menuju Yogyakarta.

Seribu jalan ke Roma…Pepatah kuno itulah yang membawa tim Carreview.id untuk melakukan satu pengetesan unik. Dalam realisasinya, nama Roma kita ganti dengan Yogyakarta.

Dua Suzuki Ignis dengan transmisi Automated Gear Shift (AGS) pun kami siapkan dalam misi ini. Tujuan utama adalah kota pelajar Yogyakarta yang akan ditempuh dari dua jalur yang berbeda yakni jalur Tol Trans Jawa dan jalur selatan. Dalam pengundian, saya mendapatkan jalur selatan, sementara rekan saya, Ahmad Biondi mendapatkan jalur Tol Trans Jawa.

Tim kami pun berangkat pada 10 Januari 2019 tepat pukul 12.00 WIB. Rest Area 57 di tol Cikampek menjadi titik start kami.  Di tempat itu juga kami melakukan pengisian bensin hingga penuh, menyamakan tekanan ban dan juga melakukan penyesuaian lainnya sehingga kondisi kedua mobil sama.

Tekanan angin ban disesuaikan standar pabrik

Di ruas tol Cikampek Km 67 kedua mobil ini pun berpisah. Suzuki Ignis GX berkelir biru yang saya kendarai meluncur ke jalur selatan pulau Jawa melewati tol Cipularang.  Perjalanan tol kami berakhir di pintu tol Cileunyi dan jalur klasik pantai selatan pun terbentang di depan mata.

Jalanan ini memiliki kontur jalan yang variatif, mulai dari jalan pegunungan, jalanan di kota-kota kecil hingga menembus area industri.

Salah satu ruas jalan lama yang dikenal cukup ‘horor’ di wilayah Jawa Barat adalah tanjakan Nagrek yang banyak bikin ciut. Tanjakan curam (dari arah Jawa Tengah ke Jawa Barat ) sejak puluhan tahun silam telah memakan banyak korban lantaran sudut tanjakan yang curam dan memiliki jalur yang berkelok. Jadi harap berhati-hati jika melintas jalur ini.

Empat jam kemudian saya sampai di Tasikmalaya dan menyempatkan mencicipi Mie Baso Laksana yang berada di salah satu sudut kota Tasikmalaya. Konon mie baso ini adalah yang terenak yang layak dicoba.  Lalu bagaimana dengan rekan saya di Ignis GL berkelir hitam?

Ternyata dalam waktu yang hampir bersamaan, mereka telah sampai di Bawen, Jawa Tengah yang juga merupakan salah satu titik keluar dari tol Trans Jawa. Tim Ignis Hitam memutuskan untuk melepas penat di sebuah warung bebek goreng yang berada tak jauh dari pintu tol Bawen.

Tepat pukul 19.20 WIB Ignis hitam sudah sampai kota Yogyakarta, sedangkan saya masih berada di Wanareja, Jawa Tengah. Perjalanan Ignis biru berlanjut dan menyentuh garis finish di Yogyakarta sekitar 6 jam 10 menit kemudian atau pada 01.30 WIB, alias 13,5 jam untuk jalur Selatan. Ignis hitam menempuh jarak 515,5 km sedangkan Ignis biru menempu jarak 521 km. 

Apakah Jalur Selatan lebih boros dalam konsumsi bahan bakar? Ternyata hasilnya cukup mengejutkan Ignis hitam menenggak 13,2 km/liter sedangkan Ignis biru mengonsumsi bensin 20,7 km/liter. Menilik dari  isi tangki Ignis yakni 32 liter, faktanya Ignis hitam melakukan pengisian ulang di Bawen karena lampu bahan petunjuk bahan bakar telah menyala.

Sedangkan Si Biru sama sekali tidak melakukan refueling hingga tiba di Yogyakarta, bahkan dari petunjuk bensin masih menyisakan dua bar. Dengan demikian bermodal bensin Pertamax dengan harga  per liter Rp  10.400 (harga sebelum 22 Januari ) maka satu tangki penuh seharga Rp 332.800 tak habis untuk menyisir jalur selatan, namun harus nambah untuk jalur Tol Trans Jawa.  


 

Mengapa demikian? Jalan halus dan relatif lurus menjadi salah satu pemicu untuk menekan pedal gas lebih dalam. Hal ini membuat mesin K12B 1.200 cc yang dipacu dalam kecepatan tinggi, bekerja dalam putaran yang juga relatif tinggi dalam durasi waktu yang lama.

Hal tersebut menyedot konsumsi bahan bakar yang lebih banyak dibandingkan dengan Ignis biru yang lebih kerap melaju dengan kecepatan rendah, meski sesekali stop and go di jalur tersebut.

Lalu berapakah biaya tol yang dihabiskan? Ignis hitam menghabiskan total Rp 329.500 untuk tol jadi Jakarta hingga Semarang via Tol Trans Jawa. Sementara untuk Ignis yang saya kendarai menyedot saldo E-Toll sebesar Rp 70.500

Suzuki Ignis GX Biru AGS Suzuki Ignis GL Hitam AGS 
Tol Jakarta Outer Ring Road   Rp 15.000Tol Jakarta Outer Ring Road    Rp 15.000
Tol Cikarang utama-Cileunyi   Rp. 55.500Tol Jakarta-Cikampek               Rp 15.000
 Tol Cikopo-Palimanan              Rp 102.000
 To Palimanan-Kanci                 Rp 12.000
 Tol Kanci-Pejagan                    Rp 29.000
 Tol Pejagan-Pemalang             Rp 57.500
 Tol Pemalang-Batang               Rp. 39.000
 Tol Batang-Semarang               Rp 75.000
Total Rp 70.500Total Rp 329.500

Berdasarkan selisih waktu yang ada, jalur selatan dirasa tak lagi ideal untuk dilewati, namun jalur nostalgia ini banyak menyajikan kuliner di sepanjang rute. Mie baso Laksana hanya satu dari banyak pilihan kuliner yang ada. Dan ketika musim durian, seperti saat ini, jalur ini dengan mudah menemui penjual durian kaki lima yang menjajakan The King of Fruit ini dengan harga yang cukup terjangkau.

Bagi penikmat kuliner, mungkin kurang menarik melalui Trans Jawa, yang hanya menyajikan makanan di rest area, yang kini masih seadanya. Mungkin beberapa tahun mendatang, beberapa tempat istirahat di tol inipun bukan mustahil tersedia kuliner yang cukup berselera. 

Saksikan keseruan perjalanan kami di kanal Youtube Otochoice 

 

 
Related
Updates

otodriver.com