Indonesia berpeluang untuk menjadi pemain utama dalam industri otomotif terutama mobil hybrid.

carpedia : Sejarah Singkat Lahirnya Mobil Hybrid dan Kesiapan Indonesia Sebagai Produsen Baterai

 
carpedia : Sejarah Singkat Lahirnya Mobil Hybrid dan Kesiapan Indonesia Sebagai Produsen Baterai

Indonesia berpeluang untuk menjadi pemain utama dalam industri otomotif terutama mobil hybrid.

Mobil hybrid belakangan ini sedang gencar dibicarakan sebagai solusi ramah lingkungan, faktanya teknologi hybrid bukanlah sebuah teknologi baru.

Semua berawal pada tahun 1902, dimana seorang pria bernama Ferdinand Porsche menciptakan mobil bermesin hybrid seutuhnya yang diberi nama Mixte. Mobil hybrid pertama ini memiliki dua mesin dengan tenaga listrik yang dirancang untuk menyimpan energi dalam baterai.

Selanjutnya pada tahun 1997, mobil hybrid Toyota Prius mulai diproduksi kemudian dipasarkan di seluruh dunia.

Bagi sebagain besar orang, mobil hybrid kini telah menjadi alternatif kendaraan yang sangat baik dibandingkan dengan kendaraan konvensional lainnya karena dapat menghemat bensin lebih lama.

Banyak mobil hybrid yang kini memiliki efisiensi bensin dua kali lipat daripada mobil konvensional sehingga dapat memberikan penghematan biaya yang lebih banyak bagi para penggunanya.

Melihat hal seperti ini, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebut Indonesia sudah siap dan punya sumber bahan baku untuk pembuatan komponen baterai mobil listrik.

Baterai menjadi kunci dominasi masa depan

Bahan baku tersebut adalah nikel murni dan kobalt. Airlangga menyebut saat ini sudah ada industri pengolahan nikel murni yang berlokasi di Morowali, Sulawesi Tengah; dan Halmahera, Maluku Utara.

"Selain itu, ada satu bahan baku lainnya, yakni kobalt yang juga dapat mendukung pembuatan baterai. Potensi kobalt ini ada di Bangka," kata Airlangga dikutip dari keterangan tertulis Kemenperin.

Airlangga menilai salah satu kunci pengembangan mobil listrik ada di teknologi energy saving, yaitu penggunaan baterai. Dengan ketersediaan dua sumber bahan baku tersebut, Airlangga meyakini teknologi baterai untuk mobil listrik dapat dikuasai terlebih dahulu. Seiring penerapan teknologi tersebut, mobil ramah lingkungan juga bisa menggunakan fuel cell atau bahan bakar hidrogen. "Ini menjadi salah satu renewable energy yang sedang kita dalami," ucap Airlangga.

 
Related
Updates

otodriver.com