Mengendarai Mitsubishi Outlander PHEV di pegunungan, mencoba torsi motor listrik di jalanan yang berliku menjadi pengalaman yang mengasyikkan.

Impresi Berkendara Mitsubishi Outlander PHEV di Prancis

 
Impresi Berkendara Mitsubishi Outlander PHEV di Prancis

Mengendarai Mitsubishi Outlander PHEV di pegunungan, mencoba torsi motor listrik di jalanan yang berliku menjadi pengalaman yang mengasyikkan.

Atas kesempatan dari PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), akhir Juni lalu kami mencoba Mitsubishi Outlander PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) terbaru. Lokasinya di pengunungan yang merupakan sebuah perkebunan anggur dan lavender di  Saint Saturnin, kurang lebih 1 jam perjalanan darat dari Marseille, sebuah kota di selatan Prancis.

Setibanya di lokasi yang dikelilingi banyak bunga lavender berwarna ungu itu, sudah berjejer 4 unit Outlander PHEV 2018 yang dilansir pada Maret  2018 lalu di Geneva Motor Show. Bentuk luarnya tak jauh beda dengan sebelumnya. Hanya beberapa perubahan kecil seperti garis lampu depan dan belakang. Atau mayoritas mirip dengan beberapa unit Outlander PHEV yang disumbangkan ke Kementrian Perindustrian.

Perbedaan besar hanya pada mesin sebagai generator listrik. Yang kami coba ini menggendong kapasitas lebih besar 400 cc dari pendulunya yang hanya 2.000 cc.  Seperti yang dipaparkan di artikel sebelumnya, dengan mesin baru diharapkan jangkauan perjalanan bisa lebih jauh.

Ketika bersiap untuk mengemudikan langsung, ada dua hal yang harus segera kami ubah mindset mengemudi. Pertama SUV listrik yang kami coba ini setirnya di kiri. Artinya, kebiasaan right hand drive puluhan tahun harus dilupakan sejenak. Karena feeling mengemudi sangat berbeda dari berkendara sehari-hari di Jakarta. Berikutnya adalah, di dalam kabin atau ketika kita mau menjalankan kendaraan, tidak ada suara mesin. Tentunya hal ini mempengaruhi  kebiasaan seumur kita mengemudi. 

Ketika mulai mengelilingi area tes yang berjarak sekitar 20 menit perjalanan, posisi tuas diletakkan di posisi D. Sebagai catatan tuas memiliki 4 pilihan dan tidak ada transmisi. Dari D (maju), N (netral), R (mundur) dan B (braking/regeneratif). Tombol  P (Park) berada di balik tuas. Selebihnya di samping pilihan pergerakan ada tombol  SAVE CHRG (efisiensi untuk baterai dan mesin), EV (hanya penggunaan baterai) dan di bawahnya ada pilihan Sport dan Twin Motor atau 4WD.

Di bayangan kami, sesuatu yang digerakkan motor listrik sudah memiliki torsi sejak awal motor listrik berputar. Tapi tidak begitu rasanya. Outlander PHEV ini bergerak halus tanpa ada entakan torsi yang mengejutkan.  Ini lantaran kedua motor yang berada di sumbu roda depan (60 kW) dan  belakang (70 kW) menerima listrik secara bertahap sesuai perintah komputer yang membaca pedal gas di kaki.

Bentuk jalan memang tidak banyak pilihan. Kebanyakan jalur lurus yang tidak lama dihadang tikungan. Selama perjalanan ini, power motor lstrik memang terasa gradasi. Artinya,  jika pedal gas diinjak penuh pun, mobil tidak langsung melesat. Tapi untuk ukuran sebuah mobil listrik, terasa cukup. Agak berbeda ketika posisi Sport dipilih. Terasa lebih ada entakan, tapi tentunya tidak seperti mobil bermesin konvensional.

Yang kami penasaran sebenarnya ketika diletakkan di posisi B. Jika ini menjadi pilihan, kita bisa memainkan tuas di balik setir dari B0 hingga B5. Fungsinya mirip dengan engine braking,  di mana jika makin tinggi angka posisi B, semakin terasa penahanan kecepatannya.

Misal saat melintas di turunan curam, posisikan di B5,  mobil akan berkurang kecepatannya seperti kita memindahkan ke gigi rendah. Nah pada posisi B ini juga, selain bertugas mengurangi laju, juga terjadi regenerasi listrik yang langsung dikirim ke baterai.

Bagaimana tugas mesin? Selama 20 menit perjalanan, hanya sekali kami merasakan generator berkode 4B12 itu hidup mengisi baterai. Itu pun karena ada tanda di indikator. Artinya, suara sangat halus, minim getaran  dan membuat kita nyaris  tidak tahu kalau sedang berfungsi.

Saat sedang mencharge ini, putaran hanya di sekitar maksimum 2.500 rpm.  Dicoba akserasi pun, entakan mesin sangat halus. Maklumlah sifatnya membantu melalui gir tambahan dan hanya berputar hingga 5.000 rpm saja.

Secara impresi keseluruhan, Outlander PHEV ini cukup baik. Hanya ada beberapa yang kami rasa kurang, seperti suara ban dan angin yang terdengar. Dan seperti mobil listrik lain, AC kurang dingin.  Tapi minor lah ini.

 
Related
Updates

otodriver.com